Last semester, when I would practice one of my task in an elementary school, I was very confused. At that time, I had to practice an individual counseling with a student an elementary school. As long I have studied, I’ve only learned about the Carkhuff theory to implement a counseling practice. But, that theory is not recommended for children, its used for adolescence .
But now, in my subject, “Guidance and Counseling for Elementary Student” which given by Mr.Solehudin, I learn about “Counseling Playing”. Its one of counseling method that we can use to approach the children. As we know, that playing is childres’s world. How counseling playing gonna work? I will describe it, according to Mr.Solehudin’s paper (unfortuneately, he didn’t put the year on his paper). I will explain it in Indonesian
Konsep Konseling Bermain
Dalam melakukan komunikasi dengan anak, kita seringkali kesulitan. Hal ini disebabkan anak tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam menjelaskan permasalahannya. Seringnya, anak justru akan terlihat ketakutan atau memperlihatkan penolakan jika orang dewasa mendekatinya dengan menggunakan bahasa verbal.

Salah satu waktu anak bisa berekspresi adalah saat mereka bermain. Sebagaiman diungkap oleh Muro & Kottman (1995) bahwa bermain merupakan bentuk self expression bawaan anak. Bermain terjadi secara alamiah pada anak dan merupakan suatu ekspresi spontan dari emosi dan pikiran-pikirannya. Konselor tentu harus memanfaatkan situasi ini untuk mengeksplor emosi dan pikiran anak.
A Freud memandang bermain ekuivalen dengan bahasa orang dewasa. Sementara M. Klein (Muro & Kottman,1995) memandang lain. Dia berpendapat bahwa aktivitas bermain dapat diinterpretasi langsung oleh konselor secara bebas (free association).
Bandung Time


bootingskoblog



Bagi yang pernah mengenal teori belajar sosial pasti pernah mendengar nama Albert Bandura
Perilaku peserta didik didasari oleh adanya kekuatan yang mendorongnya baik dari dalam diri peserta didik tersebut maupun dari luar. Kekuatan dari dalam yang mendorong peserta didik untuk berperilaku disebut motif. Sesuai dengan pendapat Sherif & Sherif (1956) bahwa motif adalah faktor internal yang mengarah pada berbagai jenis perilaku yang bertujuan , semua pengaruh internal, seperti kebutuhan (needs) yang berasal dari fungsi-fungsi organisme, dorongan dan keinginan, aspirasi, dan selera social yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut dan pendapat Haroldz Koontz dan kawan-kawan (1980;632) yang mengungkapkan bahwa motif adalah suatu keadaan dari dalam yang memberikan kekuatan yang menggiatkan, atau yang menggerakkan sehingga disebut ‘penggerakan’ atau ‘motivasi’ yang mengarahkan perilaku individu ke arah tujuan-tujuan tertentu.
Berikut adalah asumsi Dasar Bimbingan Konseling menurut Myrick 1993 yang saya temukan di catatan semester 3 mata kuliah Bimbingan Konseling Perkembangan, semoga bermanfaat :




