Kali ini pun, ketika angin masih menyapaku seperti biasa
dan tak ada yang berbeda dalam lingkaran waktu di jam dindingku
aku tertunduk untuk kesekian kalinya
mengakui kepedihan yang begitu bertalu-talu
Just another WordPress.com weblog
Kali ini pun, ketika angin masih menyapaku seperti biasa
dan tak ada yang berbeda dalam lingkaran waktu di jam dindingku
aku tertunduk untuk kesekian kalinya
mengakui kepedihan yang begitu bertalu-talu
Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya
tak sedetikpun mentari terlambat untuk terbit
tak semilipun mentari bergeser dari timur untuk terbit
tak sedikitpun mentari lelah untuk terbit
Menghirup udara setahun yang lalu
Dinginnya erat, seperti pernah es itu tak pernah mencair dihatiku
Berdiam dengan candaan rembulan terasa begitu kering
Atau embun pagi dalam kembang sepatu begitu hambar
Secepat itu tinta hitam tertoreh di kertas putih
Pekat tak terelakan, oleh apapun
Selekat itu tinta tak mau juga pudar
Tak kunjung juga hilang, setahun ini..
Kau pikir aku tak pernah berusaha menghapusnya?
Bahkan pernah kucoba merobekkan kertas putihku yang semakin usang?
Tak ada yang perlu tahu
Tidak juga kau
Dan aku berharap, udara ini segera berganti