Archive for ‘Puitis’

July 8, 2010

Putih

dan masih mengais setiap jejak di tanah merah itu
berkhayal semua akan seputih yang kumau

aku hanya mencintai putih
seputih langit yang Dia bentangkan pagi ini
terangkai lembut di antara biru yang merindu
pada hangat hati yang mereka buru

tapi aku tak seputih itu
tak seperti jawabmu di setiap raguku

mungkin hanya abu-abu
yang telah lelah menunggu

is the sun shining today?

April 30, 2010

Senjaku

Mau tak mau harus kuterima

Senjaku bersama mentari telah tiba

menenggelamkan mentari ke dasar lautan

Memadamkan jagat rayaku

Menggelapkan  duniaku

Tags:
March 6, 2010

Artikan aku sedikit saja

Kali ini pun, ketika angin masih menyapaku seperti biasa

dan tak ada yang berbeda dalam lingkaran waktu di jam dindingku

aku tertunduk untuk kesekian kalinya

mengakui kepedihan yang begitu bertalu-talu

Tags:
March 6, 2010

Sesetia Mentari

Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya

tak sedetikpun mentari terlambat untuk terbit

tak semilipun mentari bergeser dari timur untuk terbit

tak sedikitpun mentari lelah untuk terbit

Tags:
February 23, 2010

Menulis Puisi (Lagi)

Menghirup udara setahun yang lalu
Dinginnya erat, seperti pernah es itu tak pernah mencair dihatiku
Berdiam dengan candaan rembulan terasa begitu kering
Atau embun pagi dalam kembang sepatu begitu hambar

Secepat itu tinta hitam tertoreh di kertas putih
Pekat tak terelakan, oleh apapun
Selekat itu tinta tak mau juga pudar
Tak kunjung juga hilang, setahun ini..

Kau pikir aku tak pernah berusaha menghapusnya?
Bahkan pernah kucoba merobekkan kertas putihku yang semakin usang?

Tak ada yang perlu tahu
Tidak juga kau

Dan aku berharap, udara ini segera berganti

Tags:
February 18, 2010

Catatan Seseorang yang Memiliki Tuhan

Hanya ingin mencari ketulusan, di balik roda yang berputar di jalanan

Berpacu begitu bingar di bawah terik mentari yang tak lagi bersahabat

Hanya mencoba menerjemahkan angin yang terlihat menggerakkan dedaunan

Tanpa benar-benar mampu kulihat wujudnya.

Hampa, jika aku hanya berdiri dan berpikir, realistis.

Ketika ku taruh pelan-pelan kepalaku di atas bantal segi empat

Dan mengembarakan lamunanku sejauh mungkin, mulai bermimpi

Siapa, apa, bagaimana, kenapa

Seperti pertanyaan Ibrahim yang mencari kebenaran

Di tengah berhala yang mengelilingi rumahnya.

Seperti itukah perasaaan seseorang yang tak memiliki Tuhan?

Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.